MEDAN, NN — Menginjak usia ke-36 tahun, Pengurus Ikatan Keluarga Labuhanbatu Raya (IKLAB RAYA) melakukan refleksi historis dengan menggelar aksi ziarah ke makam para tokoh pendiri dan penggerak organisasi yang telah wafat, Jumat (10/7). Langkah ini diambil sebagai bentuk penghormatan konstitusional atas dedikasi kolektif para tokoh yang meletakkan fondasi awal organisasi kedaerahan tersebut.
Agenda ziarah ini dipimpin langsung oleh Sekretaris Jenderal IKLAB RAYA, Dr. Iwan Nasution, M.HI. Ia didampingi oleh jajaran pengurus inti, di antaranya Drs. H. Zulkarnain Sitanggang dan Dra. Khairul Dalimunthe, serta dr. Hj. Fatni Sulani yang hadir mewakili unsur Dewan Penasehat IKLAB RAYA.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian perayaan Milad IKLAB RAYA ke-36, yang puncak acaranya dijadwalkan berlangsung pada Minggu (12/7). Melalui momentum ziarah ini, seluruh pengurus dan keluarga besar organisasi diajak menapaki kembali rekam jejak, keteladanan, serta kontribusi nyata para tokoh dalam mengawal pembangunan di wilayah Sumatera Utara.
Secara geopolitik lokal, IKLAB RAYA bukan sekadar paguyuban biasa. Organisasi ini tercatat memiliki andil besar dalam mendorong lahirnya kebijakan pemekaran wilayah pada tahun 2008 silam, yang memecah Kabupaten Labuhanbatu menjadi tiga daerah administratif: Labuhanbatu (induk), Labuhanbatu Selatan (Labusel), dan Labuhanbatu Utara (Labura).
Rangkaian ziarah dimulai di TPU Pekuburan Mandailing, Jalan Brigjen Katamso, Medan. Di lokasi ini, rombongan mendatangi pusara almarhum dr. H. Efendi Syarif Harahap, Sp.THT, H. Khairuddin Siregar, dan Prof. Dr. Mustafa Siregar, S.H. Rombongan kemudian bergerak menuju kompleks Masjid IKLAB di Jalan Jamin Ginting, Medan, untuk menziarahi makam almarhum Drs. H. Syahnan Tinggi Hasibuan.
Prosesi yang berlangsung khidmat ini diisi dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, doa bersama, dan diakhiri dengan tabur bunga di atas makam para tokoh senior tersebut.
Di sela-sela kegiatan, Dr. Iwan Nasution menegaskan bahwa ziarah ini tidak boleh direduksi sekadar menjadi ritual tahunan yang seremonial. Ia menyebutnya sebagai manifestasi dari komitmen ideologis generasi penerus organisasi untuk menjaga api perjuangan para pendahulu.
“IKLAB RAYA berdiri dan berkembang berkat eskalasi perjuangan para tokoh terdahulu. Melalui ziarah ini, kita mengenang jasa mereka, mendoakan agar Allah SWT melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya, sekaligus meneguhkan komitmen generasi penerus untuk melanjutkan cita-cita mereka dalam memperkuat persaudaraan masyarakat Labuhanbatu Raya dan terus berkontribusi bagi pembangunan daerah,” ujar Dr. Iwan Nasution dalam keterangannya.
Melalui momentum Milad ke-36, IKLAB RAYA diproyeksikan tidak hanya menjadi wadah konsolidasi sosial bagi masyarakat perantauan, tetapi juga bertransformasi menjadi mitra strategis pemerintah dalam merumuskan arah kebijakan pembangunan yang berkelanjutan di kawasan Labuhanbatu Raya.
Sebagai salah satu organisasi kedaerahan terbesar di Sumatera Utara, IKLAB RAYA menghadapi dinamika baru di usianya yang ke-36. Tantangan terbesar organisasi saat ini adalah bagaimana merelevansikan perannya di tengah arus digitalisasi dan pergeseran demografi, di mana generasi muda asal Labuhanbatu kini mendominasi ruang-ruang intelektual di perantauan.
Eksistensi IKLAB RAYA dinilai krusial sebagai penyeimbang kebijakan publik di daerah asal. Dengan jaringan yang mencakup akademisi, birokrat, hingga pengusaha, organisasi ini memiliki daya tawar tinggi untuk mengawal isu-isu strategis, mulai dari optimalisasi sektor perkebunan kelapa sawit hingga pemerataan akses pendidikan di wilayah pesisir timur Sumatera Utara.
Konsolidasi internal yang dilakukan melalui kegiatan kultural-keagamaan seperti ziarah ini dipandang sebagai instrumen penting untuk merawat social capital (modal sosial). Ke depan, sinergi antara nilai-nilai historis yang diwariskan para pendiri dengan inovasi berbasis digital dari kader muda diprediksi akan menjadi kunci keberlanjutan pengaruh IKLAB RAYA dalam lanskap sosio-ekonomi Sumatera Utara.


